Sabtu, 06 Oktober 2018

Senangnya yah, orang Cilacap bisa jadi TOP, ngemci bareng Pembawa Acara terkenal. Selamat dan sukses untuk Mas Ageng Kiwi yaah. Semoga selalu SUKSES dan bahagia. Bisa dicontoh adik-adik nih.... semangatnya.

Senin, 01 Oktober 2018

Kalung Batang Daun Singkong




Mengenang masa anak - anak dahulu. anak - anak dahulu menggunakan tanaman dan bahan bahan yang ada di alam untuk membuat mainan. Termasuk membuat kalung. Ini caranya sederhana dan mudah. Tinggal ambil satu tangkai daun singkong, lalu patahkan daun - daunnya dan disisakan sedikit sebagai liontin. Selanjutnya dari ujung daun dibagi menjadi dua. Ambil salah satunya patahkan, lalu tarik / ambil kulit bagian luar sehingga terbagi menjadi dua bagian. Tarik dan patahkan lagi dengan panjan gsesuai keinginan. Begitu seterusnya, sampai habis. Sudah jadi. tinggal dipakai saja. OK Selamat bermain ya adik - adik cantiiikkk.. Salam bahagia.

Minggu, 23 September 2018

                                                                             ini cover
wow bangets mereka !!

Jumat, 13 Juli 2018

TERJEBAK CINTA BUTA - Luka Baru Menyayat Luka Lama

Ketika kita mengalami kebahagiaan, biasanya kita tak merasa jika kita bahagia, bahkan cenderung merasa kurang bahagia. Padahal, apa yang dicari selama ini telah kita genggam. Karena aktivitas dan kebiasaan hari - hari yang lancar, cenderung membuat kita menjadi bosan, atau boring dengan rutinitas. Bukan mencari pelarian mencari "incaran" baru untuk WA-an, atau SMSan atau like-comment-nan di media jaman canggih seperti sekarang ini.Tapi mengertilah.... kita butuh penyegaran. Jangan seperti aku.

Aku adalah insan yang tak tahu diri dan berterimakasih. Sekian tahun telah dibahagiakan dengan segala kecukupan, kini mengalami penderitaan atas keputusan hidup yang sebenarnya aku tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku untuk melakukan semua kebodohan ini.
ya aku bodoh.
Sangat bodoh !!

Entah dimana bodohnya, tapi aku merasa telah mengambil keputusan yang keliru. Anak menjadi korban. Aku berpisah dari suamiku yang seorang Sarjana Ekonomi dan meninggalkan seorang anak perempuan yang waktu itu masih kecil, kelas 4 SD demi seorang lelaki - pemuda yang konon aku sangat cintai.

Aku mengenalnya di penghujung 2014. Seorang pemuda berumur 30 tahun kala itu . Proses kebersamaanku dengan Pemuda ini tidaklah mudah. Kehidupan Kami jalani hari demi hari dengan segala kesulitan, kebahagiaan, cerita - cerita lucu, seru dan bahkan ketegangan. layaknya hubungan sepasang kekasih, kami melakukan banyak hal. Karena kebetulan banyak persamaan diantara kami, soal musik, seni, kepribadian yang cenderung kadang alim kadang "nakal", kami memiliki hal yang sama. Kecintaan kami terhadap musik, bahkan kami tuangkan dalam beberapa video klip. yaach.. ia bahkan membuat lagu khusus tentang aku. Ia bahkan memanggilku dengan sebutan yang berbeda dengan orang lain dan terasa manis di telingaku. Ia istimewa.banyak sekali cerita antara Kami. Susah senang bersama. Kami berjualan bersama dengan tenda biru. meski itu rintisannnya, namun aku merasa mencintai kegiatan itu. dibawah terik matahari, hujan deras, petir, badai... Kami bersama - sama menikmati kehidupan ini. Kesulitan - kelsulitan macam terparah sekalipun kami lakukan bersama - sama. yah, karena awal itu Kami merasa saling menyayangi dan mengasihi. Cinta terus tumbuh. Sampai sekitar 3 tahun kebersamaan Kami.

Luar biasa hidup ini.
Kebersamaan kami timbul tenggelam mengalami surut pasang kebahagiaan. Semua menjadi berubah ketika ia BERUBAH PIKIRAN. Sejak awal ia berjanji akan menikahiku, jika aku terlepas dari suamiku. ternyata setelah sekian tahun berjalan, ia mulai berubah pikiran. Tapi aku tetap semangat. berusaham dengan segala upaya. Doa dan harapan kupanjatkan, agar semua yang kuharap dapat terwujud. Beberapa kali kami bertengkar , aku pergi, lalu kembali lagi, dia pergi lalu kembali lagi bersama lagi. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya kami saling membutuhkan. Tapi ,,,,
ternyata ia tak menyadari ini...... Ia berubah pikiran atas desakan orang tua dan saudara - saudaranya bahwa AKU TIDAK PANTAS UNTUKNYA, karena perbedaan usia. Kami berbdea 9 tahun, aku lebih dahulu lahir dari ia.
Meski demikian, kami sepasang kekasih. Kami TIDAK CANGGUNG melakukan hal layaknya Kekasih. Sayangnya, aku melakukannya dengan cinta, sedangkan ia... ah, aku rasa tidak, cinta hanya sekitar 30 persen saja. Lambat laun, ia benar- benar berubah. Tingkah dan perlakukannnya sangat tidak menyenangkan hati. Terkadang aku makan hati melihat kelakuannya. ia masih mencari -cari dan tebar pesona pada para perempuan. Berkali - kali masalah itu menghinggapi kami. Meski begitu, sakit, kecewa, sedih, kelara - lara,  aku mencoba tetap bertahan pada HUBUNGAN YANG TIDAK SEHAT itu, karena aku TERLANJUR MENCINTAInya.

Berkali - kali Kami terjebak pada persoalan yang sama " TIDAK DIRESTUI" orang tuanya. Hal itu mendorongnya berpikiran lain lagi. ia bersedia menikahiku tapi dengan syarat, dia menikah dahulu dengan perempuan lain, lalu baru menikah denganku. Apa yang terjadi ???
Keributan, pertengkaran kembali terjadi. Bahkan sering sekali terjadi, karena hal semcam ini. apalagi jika dia diperkenalkan olel sodaranya dengan seseorang perempuan,. Karena usianya sekarang 34 tahun dan belum menikah, maka ia diperkenalkan dengan perempua. berkali - kali ini terjadi. berkali - kali pula aku mengalami sakit hati dan kekecewaan yang sangat amat dan aku pendam sendiri. bagaimana peranaanmu duhai perempuan jika ini terjadi padamu ?
Aku sering sekali menangis sendiri. Fisikku tidak seimbang. Aku sangat kurus dan  sangat tidak peduli dengan kesehatan. Pikiranku selalu kacau. Aku TELAH DIBELENGGU OLEH CINTA BUTA. Karena aku tipe SETIA, aku mencoba masih bertahan padanya. Meski berkali - kali terluka, aku masih mencoba bersama- sama dengannya dalam suka dan duka.

penderitaan batinku tidak hanya di situ. ia bahkan memilih kursus bahasa korea dan berencana  kerja di Korea. Luar biasa. rencananya ! ---- meski dalam pelaksanaannya, aku sering kali dikecewakan oleh kelakuannya, aku mencoba bertahan. Sampai akhirnya ia tes terlulis ujian kelulusan Korea. Kini ia sedang menunggu hasil.
Saat menanti hal inilah, puncak kekecewaanku berpangkal .
---------

Seiring kekecewaan yang berlanjut,
Aku dan ia mengalami kemajuan dalam bisnis yang Kami bangun. Meskipun tidak signifikan. Aku bersyukur. Kami bersama - sama dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Ia bahkan termasuk pria romantis. Ketika aku sakit , kecelakaan ( 2018 ) dan dirawat di rumah sakit, dengan setia ia menemaniku dan mengurusku layaknya mengurus istri yang sakit. Ia menyuapiku makan, menyiapkan obat yang harus aku minum, dan mengingatkan sesuatu yang aku lupa. ia bahkan bersedia menyekaku di pagi hari. Ia Pria romantis dan pengertian. namun bagaimana lagi, persoalan kembali muncul ketika ia diperkenalkan dengan seorang perempuan oleh saudaranya. aku sudah emrasa "panas" dahulu, meski ia belum bertemu. ia baru kenalan, tapi hati ini sungguh terluka.
Sampai akhirnya aku memberinya pilihan : "Jika kamu ke sana untuk menemuinya, maka kamu harus cabut dari usaha ini"
Aku memberi pilihan, agar ia berpikir dan berharap ia tetap bersamaku. namun ternyata ia lebih memilih TIDAK DATANG. itu artinya, ia akan menemui perempuan itu dan melanjutkan hidupnya TANPA AKU.

Sejak itulah.... ( saat ini ) ....aku harus beraktivitas sendiri tanpa ia. Tanpa ada yang untuk bercanda - canda......
suasana hati berubah buruk. Dunia terasa gelap !!!

Saat ini, aku tak bisa berpikir..... aku tak BERHARAP APAPUN DARI HIDUPKU SAAT INI, hanya ingin menjalani hari - hari dan aktivitasku seperti biasa : Siaran dan Berjualan, dan bisa memenuhi kebutuhan materi anakku, yang tahun ini masuk SMP.

AKU TAHU, TERKADANG KITA MERASA TAK SANGGUP TANPA CINTA, TAPI SESUNGGUHNYA, PEREMPUAN ITU LEBIH KUAT DAN HEBAT DARI APA YANG DIPERKIRAKAN SEIRING BERJALANNYA WAKTU....

Ya Allah kuatkan aku ....

Senin, 26 Maret 2018

Sabtu, 17 Maret 2018

Sabtu, 10 Maret 2018

Minggu, 29 Oktober 2017

Kenangan itu Mengukir Sepanjang Waktu

Kenangan itu Mengukir Sepanjang Waktu

"Eit..eit..stop stop ! Pelan-pelan....." Teriaknya.
Aku menghentikan laju sepeda motor bututku. "Iya sebentar, aku juga lagi nyari keseimbangan..."
"Jangan banter-banter, mau roboh,nih.."
"Iyahh..."
Ia menyelaraskan gerobak yang dipegangnya dengan laju sepeda motor yang kukendarai. Ya, Kami, malam tadi baru saja mengusung gerobak jualan Kami ke rumah. Dari lokasi Jalan Flores ke kota. Sekitar jam setengah satu dini hari, Kami start.
Ia, memegang Gerobak dengan posisi membelakangiku, sementara aku menyetir motor dengan keseimbangan yang sangat kacau. Karena ketika aku pakai gigi satu, waah..kacau, enggak jadi. Pakai gigi dua, keseimbangan masih gak bener, stang egal-egol. Selama perjalanan beberapa meter, kakiku melambai ke jalan raya. Sebab kalau banter sedikit saja, gerobak oleng, karena memang Gerobak Kami tinggi, karena desain untuk dalam ruangan tapi dirombak jadi luar ruangan, sehingga kesannya ramping banget.

Malam itu, di tengah rintik hujan, aku dan ia bersama- sama satu tekad " membawa gerobak sampai di rumah "
"Memangnya harus malam ini, Mas?" tanyaku meyakinkan ketika itu.
" Ya, iyalah. Kan aku sudah menyiapkan rodanya, tadi udah  aku pompa "
Yah, meski agak malas karena ngantuk dan capek, sudah beraktivitas seharian, aku berusaha bisa membuka mata dan menyetir motor dengan mencari keseimbangan yang sesuai. Parahnya lagi, gerimis yang kian lama kian deras menambah suasana jadi semakin miris.

Yah, Kami berusaha sekuat tenaga agar Gerobak bisa melaju seiring jalannya sepeda motor tanpa roboh. Karena kalo roboh, sudah pasti, kaca-kacanya pecah, dan pasti butuh biaya lagi untuk memperbaikinya.
Akhirnya Kami berjalan pelan-pelan... sangat pelan. Paling berjalan sekitar 0,5 km per jam.

Di jalan Raya Gatot Subroto, Kami berhenti. Aku mencoba tukar posisi. Ia yang menyetir, dan aku yang memegang gerobak. Kami mencoba. dan.. aoowww..ternyata..
"stop stop stop..Mas, aduh.. hahahakkk.."
"kenapa?"
"Jangan banter-banter..."
" Ya udah, kayak tadi aja, kamu yang depan, aku belakang"
Kami bertukar peran lagi seperti semula.
Yah...Kami berjalan sangat pelan. Sangaaatt pelan... Kami tahu, meski wss weess... mobil-mobil yang mendahului Kami begitu kencang seperti lesatnya busur panah."whuuuzzzz"!!! Tapi Kami tetap pada perjalanan yang pelan...tetapi pasti...

Di tengah perjalanan, aku terkadang melamun...diam...sangat menikmati perjalanan yang sangaaaat pelan ituu.... Tetapi aku merasakan seperti ada yang sangat syahdu... Tak segeserpun, kadang Kami melaju, sangat lancar dan nyaman ...padahal Kami sangat pelan.... roda-roda berputar dengan sangat asyik... sampai Ia menyadari bahwa aku menikmati perjalanan ini....
"hey, kenapa,lu ?" tanya ia.
" He he... enggak apa-apa... asyik ajah, aku baru ngliyatin lukisan graffitt\y baru aja di tembok sebelah tadi..."
" Owh..."
" Kamu juga kan?"
" Iya..."
Hmm... Kami terus melaju....
Di Alfamart dekat RSUD, kami berhenti.
" Aku mau ke toilet"
" Ya udah Kita istirahat, sekalian Kamu beli minum sanah !"
"Iya !"
Aku melepas helem, mantel, tas rangsel yang kuletakkan di dadaku, dan lelepas tas Laptop di punggungku. Ia membantu melukarnya. Kami bersama-sama....

Aku masuk ke Alfa, dan bla bla bla...selesai itu, Kami masih menikmati minuman dan ia mencoba menghangatkan badan dengan menyalakan selinthing rokok.
Motor dan Gerobak Kami parkir di tepi jalan raya yang sudah sangat sepi. Kira- kira jam setengah dua pagi. Hujan semakin deras. Yah... Kami menanti hujan reda....

" Udah, kamu pulang aja sana, kan udah hampir sampai, biar aku dorong sendiri gerobaknya"
Aku tersenyum " Enggak,Mas... biar aja, enggak apa-apa..."
" Kan besok kamu masuk pagi kerjanya "
" Enggak apa-apa... udah tanggung... ini aku udah enak nyetirnya, udah bisa seimbang"
" Bener nggak apa-apa?"
" Iya..."
Dalam hati aku berkata " aku akan tetap menemanimu sampai Kamu tiba di rumah"...hmm.. Jangankan hujan, badai seperti ini... mati bersamamu pun aku sanggup !!
Tidak tahukah kamu bahwa aku sangat sayang dan mencintaimu....??

Ya, sesaat kemudian hujan reda, Kami memulai perjalanan kembali. Di tengahnya kemudian, aku ke POM Bensin, karenabensin yang diisi baru saja, pasti tinggal sedikit. yah... Ia menantiku di tepi pinggir jalan raya, sementara aku mengisi bensin.

Menit berikutnya, Kami memulai berjalan  kembali...

Wheeezzz!! sebuah mobil menyalip Kami dengan tanpa perasaan! Hampir saja !!
Dan.... ketika sampai di Jalan Jendral Soedirman... serasa aku sedang mengikuti pawai Pembangunan.
Tiba- tiba aku tertawa
" Kamu kenapa ?" Ia keheranan mendengarku yang tiba-tiba tertawa. Dan melihat orang-orang yang masih melek malem itu melihat Kami juga terheran-heran.

"Kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku ?"
" Apa?"
" Kita seperti sedang mengikuti Pawai Pembangunan ! Hahaha... " Kulaju kendaraan di tengah jalan raya tepat di tengah garis putih lalu kuberteriak " Ya.. sodara-sodara!! sesaat lagi kita akan sampai di Panggung Kehormatan,.. Dan Bupati siap menyambut kedataangan kitaaaah...hahaaaa!! yuhuuuiiii......"

Hampir sampai alun-alun... laju kendaraan Kami sangat pelan. Aku tahu, Kami sangat mengantuk dna lelah karena aktivitas harian, tetapi Kami punya semangat satu : membawa gerobak sampai ke rumah !

Yah... hampir sampai... dan ia memutuskan untuk mendorong gerobak. Ia turun dari boncengan dan mendorong gerobak yang jaraknya tinggal beberapa meter saja.
"Sudah, kamu duluan aja ke rumah sanah !! Tas laptopnya jangan lupa !"
"Iyah "
Meski aku bilang iya, tetapi aku tetap mengiringi langkahnya, akrena aku tahu, sebentar nanti pasti dia akan kesulitan mendorong gerobak, ketika menyeberang/melompati rel kereta.
Benar saja, di tengah rel, gerobak terhenti. dan ia butuh bantuan.
akupun turun menangkap gerobak agar tak lolos ke jalanan dan roboh.

Yahhh..alhamdulillah, Kami sampai juga. Meski hujan masih membasahi tubuh Kami, Kami masih bisa tersenyum, Bahagia !! Gerobak selamat sampai tujuan.

Aku bangga padanya. Kulihat senyum bahagia di bibirnya, meski agak malu ia tunjukkan padaku. Dan aku semakin melihat kegantengannya yang kian nyata saat derai air hujan membasahi wajahnya. Bagiku, ia seksi dengan keringat di wajah... yang sungguh lukisan alam membuatnya begitu.
Dan...malam itu benar- benar menjadi malam paling indah dalam kenangan Kami, dari sekian banyak  peristiwa yang menggores di kehidupan aku dan dia.

Aku sungguh-sungguh menikmati perjalanan itu...

Perjalanan malam itu, sama halnya dengan cinta kita.... perlahan - lahan jalannya... dengan banyak godaan, banyak sentilan , terlihat tidak sesuai, tidak cocok, tetapi tetap sejalan....terkadang tidak-seimbang, tetapi kadang selaras, kadang menyakitkan  seperti gelombang jalan yang menggoyahkan gerobak itu, tetapi tetap berdiri kokoh di tengah gempuran air yang turun dari langit...terkadang aman terkendali, lurus bahkan menghanyutkan....

"yahh.. seperti itulah cinta kita "
Semoga selamat sampai tujuan... aamiin ...
untukmu aku persembahkan..cinta yang syahdu ini..
aku membanggakanmu... sampai terhenti nafasku..

Cilacap, 30 Oktober 2017

Tidak ada dokumentasi untuk peristiwa itu, karena Kami tahu, Allah telah merekamnya. Dan di benak Kami telah terekam dengan sangat kuat, tak kan terhapus waktu, zaman atau apapun ! Semua telah mengukir di dalam hati Kami.

Apapun yang terjadi nanti pada Kami.... telah banyak kenangan indah Kami bersama, dan tak ada yang dapat merampasnya... dari ingatan Kami.  pun jika salah satu dari Kami mati.....

Begini kira - kira ilustrasinya ....




Jumat, 07 Juli 2017

Si “We Can’t Do That”

Si “We Can’t Do That” ( tulisan ini didedikasikan untuk seseorang )

“We can’t do that” atau “we can’t do it” adalah sebuah kalimat singkat. Tapi pedas ! Tahukah kamu bahwa kalimat ini membunuh kehidupan ? Mematikan semangat dan memporak-porandakan kehidupan ? Mengapa ?
Sama halnya dengan kata : “aku tak bisa !” Kata ini adalah setengah kekalahan dari kehidupan. Setengah ketakutan dari penyelesaian sebuah permasalahan. Setengah ketakutan itulah yang merupakan setengah kekalahan ! Ketika masalah sedang berlangsung, dan kita sudah mengatakan, “aku tak bisa !” maka sejak itulah peluang sukses kita ke depan hanya limapuluh persen. Padahal jika kita mengubah kalimat negatif itu menjadi kalimat positif “ Aku bisa !” atau “We can do that” atau “We can do it !” kekuatan yang tidak terduga itu dapat muncul hingga delapan puluh persen ! dan kita tinggal menyelesaikan yang dua puluh persen itu, dimana dipengaruhi oleh pihak luar, tempat, situasi umum dan semua yang berada di luar diri kita, yang dapat kita atasi berdasarkan ketrampilan, insting, feel, dan pengalaman serta faktor “luck” yang hanya beberapa persen saja ! Walaupun SERIBU RINTANGAN menghadang ! Namun sayangnya, kalimat “we can’t do that” itu sudah merasuk ke dalam pikiran kita dan terus dikumandangkan, yang perlahan – lahan akan melumpuhkan kehidupan, tanpa kita sadari.

Mengapa aura negatif muncul pada kalimat “We Can’t Do That ?”
Kalimat : “Kita tidak bisa lakukan hal itu !” adalah kalimat keputusasaan. Kalimat milik orang-orang penyerah, pasrah dan tidak mau berusaha atau sudah tidak lagi menginginkan pasangannya ! ( sudah tidak senang, sayang dan cinta lagi ) atau tidak mau lagi berharap pada sebuah asa, sehingga sengaja memunculkan kalimat itu. Meskipun dia tahu, itu kalimat tidak baik. Sengaja dengan hati perih, pasrah tanpa usaha, ia katakan itu, karena ketidakberdayaannya, ketidakmampuannya menyelesaikan masalah, merasa tidak memiliki kekuatan apa-apa pada apa yang tengah dihadapi. Tahukah kamu, kalimat “Kita tidak bisa lakukan hal itu !” dapat melemahkan syaraf kita !? Jika kita mempercayai kalimat “we can’t do that “, Kalimat itu akan tertanam di dalam pikiran kita, dan mengirimkan sinyal “berhenti berkarya”, “berhenti berusaha”, atau sebangsanya. Kita tahu, kekayaan manusia yang tidak bisa dirampas oleh siapapun adalah pikiran kita. Dari dasar inilah kita memiliki kekayaan lainnya. Jika pikiran kita “miskin”, maka dengan mudah kehidupan kita “dimiskinkan” oleh hal lainnya. Jika kita sudah terserang virus “we can’t do that” yang kita lakukan biasanya berjalan begitu saja tanpa ada harapan ... atau bagi sebagian orang kreatif, ia melakukan hal lain di luar kebiasaan salah satunya adalah : “lari” – menghindar dari permasalahan ( pergi jauh, berganti profesi, berganti halauan, menyenangkan diri dengan hobi baru yang tidak sesuai dengan kepribadiannya ( menjadi orang lain ) atau hal lainnya ) Barangkali akan dipelintir dengan alasan yang lebih rasional, sehingga semua berjalan seperti sebuah hal yang baik ( tetapi sangat disayangkan karena “meninggalkan” sebuah atau beberapa permasalahan dalam hidupnya). Sehingga orang – orang di sekitarnya akan mendukung apa yang ia lakukan karena “terkesan” baik. Itu sebuah kehebatan tersembunyi, yang tidak dimiliki orang - orang biasa.

Terlepas kita orang kreatif atau tidak, yang jelas, jika kita terus mengumandangkan kalimat “we can’t do that ‘ secara tidak sengaja kita telah “melumpuhkan” kehidupan kita sendiri dan tidak memberikan kesempatan pada diri kita sendiri untuk berubah menjadi lebih baik dan meningkatkan intelektual kita secara menyeluruh. Mematikan semangat, membunuh gelora ! Secara sengaja atau tidak, kita telah menularkan virus negatif pada orang – orang di sekitar kita. Betapa kerdilnya kita, jika “mengikuti” Si We Can’t Do That ! Ia perusak, perongrong kehidupan, pelemah syaraf ! Musuh terselubung paling mengerikan dalam jiwa kita. Ia Peluka terhalus yang menempel di organ tubuh kita terdalam. Ia ibarat pelacur tercantik yang melenakan kita, tanpa kita sadari ! Mari, jangan ikuti ia ! jangan percaya padanya ! Jangan beri kesempatan padanya untuk hidup dalam jiwa kita !! Karena ia adalah salah satu PERUSAK KEHIDUPAN ! Ia adalah iblis terhebat penghambat kesuksesan. Percayalah !
Kita perangi ia dengan kalimat positif, karena kita ingin menjadi orang- orang yang positif bukan? Mari, ganti “we can’t do that” dengan “We can do that !” atau “ I can it !” “Kita bisa !!” Karena kita ingin semua dipermudah bukan? Permudahlah semua urusan dari pikiran kita sendiri, Jika dari pikiran kita telah menganggap mudah, atau kecil permasalahan ( sebesar apapun) maka akan sangat mudah hal lain mengikuti kemudahan kita ! Bukan diri kita yang mengikuti kesulitan kita, tapi permasalahanlah yang mengikuti kemudahan kita ! jangan mau diperbudak permasalahan dengan menyulitkan hidupmu yang hanya sebentar ini ! apalagi ” lari “ – sehingga membuat permasalahan baru.

Sebagai seorang yang bertanggungjawab pada kehidupan, mari, selesaikan masalah kita dengan gantle dan bertanggungjawab ! Karena kita adalah orang – orang yang menang ! Orang – orang yang luar biasa memerangi kehidupan. Kita adalah PEMENANG KEHIDUPAN, sekarang !! Bukan besok, tapi SEKARANG ! Maka jangan khawatirkan kehidupan kita besok, karena kita hidup di hari ini ( barangkali lima menit lagi kita mati ). Hidup kita hari ini. Masa depan yang kita sebut waktu kita kecil dulu adalah hari ini. Masa depan yang dulu waktu di SD, SMP, SMA, kuliah dulu, kita sebut-sebut, adalah hari ini !! Menikah atau belum, punya anak atau belum,punya cucu atau belum, punya rumah, mobil, perusahaan atau belum, MASA DEPAN KITA ADALAH HARI INI !! – sedemikian dekat kematian dengan kita - jangan pernah merasa bahwa cinta tidak sanggup mengalahkan kehidupan !

Kebutuhan Hidup kita TIDAK LEBIH BESAR DARI CINTA KITA yang TUMBUH karena KEBUTUHAN. Dengan semangat, cinta dan keyakinan, kita dapat memenangkan kehidupan, dan menyingkirkan “Si We Can’t Do That !”

Mari, kita menjadi Si “We Can Do That ! dan bukan Si “We Can’t Do That !”
                                                                     *-*

Tulisan ini didedikasikan untuk seseorang yang berniat meninggalkanku. Jika ini tidak menyurutkan langkahmu untuk pergi, aku tetap akan menjadi “We Can Do That !”
- #Pulangkan aku ke jalan jiwamu - GeaJulia8Juli2017

Kamis, 22 Desember 2016

tess

Selasa, 16 September 2014

Belajar Ngedit Foto


Membuat Chocolate Effect pada Foto Raisa



Efek ini bagus juga buat yang seneng bikin foto lebih artistik.. banyak editan-editan dari fotografer sekarang model kayak begini..sebenernya sih simpel, tapi karena para fotografer memiliki sense of art nya bagus.. efek apapun yang mereka tambahkan pada suatu foto, keliatannya pasti keren dan indah.  Itu karena insting seni udah mengalir di dalam darahnya dan melekat di dalam otaknya .. halah .. sinetron pisan kata-kata nyah.
Cobain bikin yu..
sebelumnya silahkan download dulu foto raisa ukuran gede .

Klik untuk memperbesar..terus download
Buka foto Raisa yang udah didownload .

Klik ctrl + J untuk menduplikat layer background.
Click Create new fill and Adjustment layer > Brightness/contras

Klik lagi Create new fill and adjustment layer > hue/saturation

Klik lagi create new fill and adjustment layer > Curve

Create New fill and Adjustment layer > Photo Filter

Klik Create New FIll and Adjustment layer > Curve

Klik Create New Layer .. lalu warnai dengan abu-abu (#747474) menggunakan paint bucket tool , ubah layer style menjadi Screen dan opacity diturunin jadi 15%

Sekarang Klik layer background copy atau layer foto nya raisa.
Klik Image > Adjustment> Shadow/highlight

Sekarang kita atur lighting nya..
Klik Filter > Render > Lighting Effect

Terakhir  untuk memperterang foto hasil editan, klik  create New fill and adjustment layer > Brightness/contras

Dan hasilnya seperti ini :

Selamat mencoba..



Artikel Membuat Chocolate Effect pada Foto Raisa ini dipersembahkan oleh Tutorial Photoshop Gratis. Kunjungi Notes of Life. Atau pesan pembuatan Photo Slide Show Murah di Pembuatan Photo Slide Show Murah

Kamis, 22 Mei 2014

Lama engga nulis.

Kagok rasanya, karena lama ngga nulis. Sampai detik ini bingung mau nulis apa. Karena aku begitu banyak keinginan dan harapan, tetapi mewujudkannya harus satu - satu. yah, dulu aku suka sekali melukis. melukis di kanvas, di kertas, di buku-buku, atau di kaos.. hehe..., Tak hanya itu, aku dulu juga suka sekali menulis. Aku sempat merambah dunia tulis - menulis, grup yang kuikuti grup Penulis _ Penulis baik amatir maupun profesional. Kerjasama dengan berbagai Penerbit. yah, menyenangkan memang.Banyak pengalaman, banyak kenal dengan orang - orang Top bahkan yang belum pernah ditemui dalam dunia nyata sekalipun bisa melakukan transaksi jual - beli. Bahkan aku sempat membuat beberapa buku bareng dengan Penulis se Indonesia, ah, menyenangkan memang dan membanggakan.

Tak tahu kenapa, mungkin karena seiring kesibukan aktivitas sehari -  hari menjadi Penyiar Radio sekaligus Programmer, merangkap-rangkap lainnya, aku jadi jarang punya ide menulis. Bahkan terlewatkan beberapa evant lomba menulis. Ditawari- ditag temen untuk ikutan lomba nulis ya, terlewat begitu saja, beda dengan dulu, kerjaannnya mencari daftar LOMBA MENULIS. hadeeewww...... dan era sekarang, berbeda lagi. Otakku jalan terus. Kreasi di otakku berputar - putar, Setelah punya HP yang ada kameranya aku jadi doyan motret. entah itu motret diri sendiri - selfie atau motret sekitar. Berusaha ngumpulin duit, terus beli kamera DSLR, wah, walopun enggak mahalan dan cuma second, aku udah seneng, karena motret bukan untuk komercil cuma buat nyalurin bakat ajah, hobi atjah.. ya.. jadilah seperti sekarang ini.
AKU DOYAN MOTRET.

Bukan fotografer sih, tapi cuma belajar motret dengan baik. Materi - materi aku pelajari dari internet. Dengan mengandalkan Google Translate, materi berbahasa Inggris, aku translte ke indonesia. Hasilnya... aku jadi tahu dan mengerti banyak hal. Selanjutnya aku jadi doyan motret setiap hari. Apa aja dipotretin. Mulai dari jamur, kupu, belalang.... rasanya semua pengin dibidik. yah, duniaku berubah - ubah. Aku mau hidup yang tidak stagnan itu-itu ajah. Aku ini orang kreatif dan nggak bisa "diam". Otak dan tangan dan kakiku bergerak terus setiap hari. Itu mungkin yang membuatku awet muda. hahahahahaahahahakk....

Yah... variasilah dalam hidup, agar tidak monoton dan bosan!
Selamat berkarya dalam duniamu.
dan aku dalam duniaku. DUNIA SENI !

ini beberapa hasil jepretanku :
Karena aku juga dari teater, maka nggak ketinggalan foto aliran EKSPRESIONISME


thank you.

Sabtu, 02 November 2013


SINOPSIS Cerpen " MBELGEDES" Karya Gea Julia

 

Cerita dibuka dengan tampilan seorang perempuan bernama Lasmi yang sedang menunggu tamunya di gerbong kereta api, suatu malam. Tamu lelaki yang dinantinya itu tak lain adalah kekasih hatinya yang sudah memberikannya seorang anak laki - laki berumur tiga tahun. Meski berprofesi menjadi penjaja seks,

Lasmi menyimpan perasaan cinta yang mendalam pada lelaki itu, meski ia tahu Beni, lelaki itu telah memiliki istri dan anak.

Hingga sampai pada suatu malam, Lasmi dikecewakan Beni, karena sopir bus itu ternyata telah menggandeng perempuan lain. Kekecewaaan yang berbuah dendam meradang dalam diri Lasmi.
Penderitaan batin menusuk hati perempuan itu. Bukan hanya batin, Lasmi sempat disemprot istri Beni.
Kepada sahabatnya Lasmi bercerita, tetapi sahabatnya berharap Lasmi meninggalkan Beni.

Pada malam - malam berikutnya, kegetiran dan siksa batin kerap menyerbu hati Lasmi. Sampai pada suatu malam Beni datang lagi dan menyatakan perasaan sayangnya yang tak akan pernah hilang pada Lasmi.

Bagaimana sikap Lasmi menanggapi cinta Beni setelah dikhianati ? Ada kegaduhan apa di pagi hari di stasiun setelah semalam terjadi gelora asmara yang begitu hebat ? Siapa yang terbunuh dalam ending cerita ? Bagaimana nasib Lasmi ?

Silahkan baca CERPEN "Mbelgedes " Karya Gea Julia yang menjadi salah satu PEMENANG  favorit dalam LMCR Mentholatum Golden Award 2013 yang diselenggarakan RayaKultura

#  Cerpen dapat dibaca di blog ini.


*Cerita ini didedikasikan kepada teman - teman PSK Kroya, Slarang, dan Teluk Penyu Cilacap.


Jumat, 01 November 2013

" MBELGEDES" Karya Gea Julia



“ Masih hangat sisa percintaan semalam. Hmm… hidungku berdenyut masih ingin menciumi aromanya, melentur lidahku ingin lagi menjilati gairahnya. Bibirku merekah mau lagi resapi anyirnya. Jemariku melentik lentik ingin mengelupasi kerak – keraknya untuk kurekatkan di jaketku untuk hiasan perlambang cinta”
***
Bersama laju kereta yang menghilang di kegelapan malam berubah raut wajahku. Suasana lengang.
Aku  di sini sudah biasa. Sambil kuhisap sebatang rokok bisa kulihat suasana malam dingin yang gamang. Cahaya terang lampu di peron tak mampu menyembunyikan setiap gerakan, pun cicak yang saling mematuk di dinding stasiun. Hembus angin menyapa setiap tubuh. Seorang lelaki tua tertidur di bangku dengan mulut menganga, seorang bencong berjalan cepat menuju toliet. Pemuda berjaket hitam asyik menikmati sebatang rokok bersandar di dinding, sementara seorang lelaki tengah baya tampak menenggak minuman berenergi dari sebuah botol, seorang ibu duduk di bangku menyusui anaknya serta  di sebelahnya seorang anak kecil terkantuk – kantuk di pangkuan ayahnya, seorang pedagang asongan sibuk menghitung recehan di trotoar, beberapa tukang becak dan tukang ojek bercengkerama tentang penumpang mereka hari ini. Aku juga melihat Petugas Keamanan menyisir stasiun dengan matanya yang tajam, siap dengan senjata di tangan.
Stasiun. Malam terus berdenyut. Aroma harum, sengau, busuk bercampur menelisik dada hidup. Berlebur mengurai harapan di deru laju kereta. Lihat saja, Petugas loket disibukkan tiket. Petugas Pemberangkatan  lihai memainkan benderanya. Tukang ojek terbiasa menawarkan jasanya. Calo Tiket terbiasa memangsa calon penumpang yang tergesa. Pedagang asongan, terbiasa dengan suara lantangnya. Panjaga toilet, terbiasa duduk manis menunggu kotak pundi pundi sambil terkantuk –kantuk. Pengamen kecil lantang teriakan nyanyian sumbangnya. Pengemis sibuk menadahkan tangan. Pencopet asyik memainkan kelincahan jari - jarinya. Mereka teramat bergantung pada kereta; Stasiun. Apalagi perempuan yang sok cantik dan seksi  sepertiku. Ya, stasiun. Ia laksana lokomotif yang menarik puluhan gerbong di belakangnya. Bagaimana mungkin kehidupan mereka, aku, dilepaskan dari kereta ? Bukankah kereta terus melaju sejak pagi hingga malam hari sampai pagi lagi ?
Aku masih berdiri di sini, gerbong  tak terpakai, tua, karatan, dan gelap. Gemeretak  gigiku

tanda kecemasan. Terselip sebatang rokok di sela jari, menggigil kuyu melawan dingin malam. Asam rasanya. Gincu yang kupoles sejak tadi sore pudar. Berkali – kali kuhembuskan asap ke udara membentuk kepulan asa. Nafas jengah bergumul meramu gelisah mengaduk jiwa di rongga dada. Lebih dari sejam aku menunggu dan sudah menghabiskan entah berapa batang rokok.
“ Brengsek ! Dia menipuku lagi !”
Aku  sangat yakin kalau ia tak akan datang malam ini. Namun jiwa yang diliputi rindu ini menentang suara hati. Sangat tak mengerti, mengapa aku masih mematri hati pada seorang lelaki busuk macam dia !?
“ Keterlaluan !! “ umpatku. Kuinjak – injak puntung terakhir.
“ Hai...!”
Sebuah suara lelaki tiba- tiba mengejutkanku. Ah, bukan dia.
“ Menunggu Beni ? “  matanya liar memandangku. “hahahahak... sampai kering juga tak akan kau  temukan!..”  Rinto,  salah seorang teman Beni. “ Apa, kau tak ingin bersamaku ?” Ia menggodaku.
Tanpa kata aku bergegas tinggalkannya. Dia tak berarti apa – apa bagiku.
“ Ups! “  Ia menarik lenganku “ mau kemana ?” sergahnya.
“ Bukan urusanmu !” kataku tanpa memandangnya “ Lepaskan tanganku !”
“ Aow, aow,aow..! Sejak kapan aku tak boleh menyentuhmu ?”
“ Uugh !!” kukibaskan tanganku agar terlepas dari cengkeramannya. “ Jangan ganggu aku !”
“ Hahahahakk.... !!! “  Dia terbahak. Tawa pengisyarat kalau aku perempuan leceh. Tawa pernyataan jika aku  terbiasa dengan sentuhan nakal. Tapi kali ini, sungguh ! sentuhan macam itu serasa silet yang menyayat kulit ! Aku sedang tak ingin sentuhan manapun !
Aku berjalan cepat melintasi rel kereta. Menembus terobosan para tukang ojek dan sederet becak yang terparkir di depan stasiun.
Aku hanya bisa melukis langit dengan air mata. Mengecup awan dengan siulan. Sungguh ! Lecehan lelaki itu  badai yang memporak-porandakan hatiku. Melarung mimpi diantara kepingan hati. Aku mungkin busuk bagi setiap lelaki yang pernah menyentuhku. Namun bagiku daging yang bernyanyi ini melagukan irama rindu demi pencapaian ritme indah dalam hidupku. Aku tak ingin laguku berhenti sampai aku bernafas satu – satu. Karena aku tahu, ada lirik pada bait – bait tertentu yang harus kusempurnakan. Yang harus kutuntaskan ! Sebab bukan sekedar lagu, ini nyanyian kelam. Lengkingan malam yang menghunus setiap jantung yang berdetak mendengarkan rintihan.
“ Brengsek! Brengsek !! “ umpatku berulang kali.
Aku mulai merasa Lelakiku tak lagi menginginkan tubuh ini. Ia sudah berkali – kali ingkar dari janjinya sendiri. Entah apa yang sedang menutupi mata hatinya. Nuraninya tak lagi terketuk oleh suara tangis bocah.
“ Maafkan Ibu, Nak ! Ia tak lagi mengingatmu. Mungkin ia lupa ada darah kentalnya mengalir di tubuhmu “
Aku selalu ingat anakku, Dino, kini berumur tiga tahun. Aku kerap memandanginya di kala ia tidur. Bercanda dengannya kala waktu – waktuku. Ya, ia lahir dari rahimku. Murni dan suci tanpa cela rupanya. Sering kutitipkan ia pada Tri, tetanggaku yang seorang pembantu, karena aku harus bekerja pada malam – malam begini, bahkan terkadang hingga pagi menjelang.
Badanku cabik. Laksana sedang mengokop sup lumpur dalam mangkuk berisi cacahan tulang – tulang bayi. Hitam dan pekat menopeng wajahku. Untuk raup saja tak ada seliurpun ludah membasahi pipiku. Cemong!
Buat makan sehari – hari saja, selama ini aku dapati dari tiap – tiap malamku melayani Lelaki Hidung Belang, berondong, ABG tua, akh!! Entah apa lagi sebutan keparat – keparat itu!   Untuk berteriak suaraku tercekik langit malam. Kakiku cuma bisa menendang bintang. Berlariku hanya mampu sejengkal. Merangkakku menuju lekuk budak. Kebutuhan hidup lebih mendesak, berjejal dengan harapan dan impian bernama  masa depan. Itu selalu membawaku untuk melakukan hal bodoh dan nista yang sama pada malam – malam berikutnya. Kadang aku berpikir, masih ada tidak ya, aku menggenggam satu cinta ? Segenggam saja,  kuraih  cinta yang bertebaran diantara puluhan bola api neraka dunia! Ah , sepertinya  imposible!
Beni. Lelaki yang telah beristri itu telah membawa separuh hatiku. Bahkan sejak empat tahun yang lalu ...
“ Nggak, apa – apa. Kita ikuti saja perasaan ini ...” ucapnya seraya lembut membelaiku pada malam – malam yang membius.
Aku menatapnya lekat – lekat.
“ Aku mencintaimu, Lasmi ... “
Bisikannya membuaiku pada ratusan bahkan ribuan senyawa di udara. Menerbangkan bunga – bunga pada dada yang bergelora. Mengisi cawan – cawan kosong dengan air surga dalam rongga asmara. Bersemayam lama. Hingga aku melahirkan anak lelaki.
“ Apa kau masih berharap pada lelaki brengsek itu ? ”
Tiba – tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku. Hesti, perempuan berumur tigapuluh tahun itu, menyodorkan segelas jus jeruk hangat kepadaku.
Kami berdiam. Dia tampak menjagaiku.
“ Udah, lupakan aja dia, cari yang lain !” katanya seraya menghembuskan asap rokok membentuk bola bola ke udara. Kami duduk berhadapan di sebuah lesehan tak jauh dari stasiun.
“ Dia, ayah  anakku !” tegasku.
Kabar itu bukan hal baru buat Hesti. Selama ini,  semua yang terjadi padaku, ia tahu. Perempuan bertubuh sintal itu lebih lama melacur dariku.  Dia teman terdekatku, terbaikku, saat ini.
Tiba - tiba terdengar suara laki – laki dan perempuan terkikik dari balik kain penutup tenda. Canda – canda menggoda menusuk telinga. Kutajamkan pendengaran. Aku terbelalak. Aku kenal suara itu ! Suara lelaki itu .... Beni !
“ Kamu cemburu ?!” tanya Hesti melihat gelagatku.
Wajahku memanas. “ Hes, meski gue pelacur,  trus, gue nggak boleh cemburu, gitu ?!”
“ Ya..., secara ! “
“ Secara gimana? Dia kan, juga ayah  anakku ! Jadi wajar dong !” Mataku terbelalak.
 “ Lasmi !” Ia menahan langkahku. Berusaha meredamku. “ Gue tau, lo  sakit !  Tapi coba berpikir  jernih dong  ! ” katanya.
“ Udah!! Gue nggak bisa menahan diri lebih lama di sini !” sergahku. Aku  berlalu  melintasi tenda sebelah berisi keduanya. Aku mau muntah, muak!!
Aku melihat lelakiku dengan seorang perempuan muda, entah siapa. Mesra.
Hancur! Remuk hatiku!
Malam makin garang siap menerkam jiwa goncang ini. Malam ini jadi malam terburuk dalam hidupku. Terburuk! Serupa hal yang melingkupi pikiranku. Orang  mengatakan aku perempuan jalang yang malang. Yang dianugerahi kecantikan tapi selalu dikuntit penderitaan. Yang dianugerahi cinta, tapi timbul di tengah kemiskinan dan terpedaya dengan emas dunia yang menyala. Ketika aku menyerah padanya ; ia ; cinta meninggalkanku tanpa menyisakan sabait rindu sedikitpun. Aku serupa mangsa yang gemetaran dalam cakar – cakar penurunan nilai harga diri dan bersimbah luka yang sangat menyedihkan! Nista !
Aku kerap tak bisa memejamkan mata. Malam-  malamku menjadi malam yang mengerikan! Kerap menyongsong keterkutukan! Jiwaku lelah! Kepayahan. Hingga untuk memejamkan mata saja aku harus meminum obat tidur yang kubeli di apotek tak jauh dari stasiun. Sudah lama kulakukan ini. Ya, kemanapun aku pergi, obat itu selalu terselip di jaketku. Ia menjadi teman karibku. Ya, obat tidur itu .... Obat itu, melenyapkan semua beban yang menderaku ! Meski sesaat ...  
***
Rona senja dilapisi kabut kristal tak berpancar kerlipnya memanjang di langit, adzan maghrib berkumandang di mushala tak jauh  dari tempat tinggalku di gang sempit perumahan kumuh dekat stasiun. Terkadang aku ingin memenuhi panggilan itu, tapi aku tak tahu harus mulai dari mana. Berulang kali pintu hidayah terbuka, tapi semudah itu pula tertutup kembali oleh desakan kebutuhan hidup yang terus menggerogoti perut. Ah, selalu suara adzan, bagiku tak ubahnya seperti nyanyian kasmaran penghibur kegalauan hati. Ia laksana cukai tembakau pada sebungkus rokok. Selalu ada, harus ada, tapi tak  dilirik sedikitpun oleh penikmatnya.  Ah, ...
Aku sedang menyuapi Dino di teras rumah kontrakanku. Bercelana pendek bunga – bunga dengan berkaos pink, aku duduk santai menikmati senja. Tiba – tiba seorang perempuan seumuranku datang menghampiri. Tergopoh – gopoh. Dengan emosi ia menjambak rambutku.
“ Dasar perempuan murahan ! Pelacur kere ! Perusak rumah tangga orang ! Belum puas kau hancurkan aku, hah ?! “ suaranya keras dan bernada tinggi. “ Mana suamiku ? Mana Beni ?! Kau simpan di mana dia ?!” Ia mengguncang – guncang tubuhku.
Aku berusaha melepaskan cengkeramannya. Sementara Dino menjerit dan menangis melihatku diperlakukan buruk.
Perempuan itu memandangku laksana serigala yang akan memakan mangsa. Panas. Beringas.
“ Mana ?! “ bentaknya.
Belum sempat aku berkata – kata, ia menarik Dino.
“ Hei, bocah haram ! seharusnya kau mati membusuk di tong sampah ! “ makinya seraya menjoglo kepala Dino.
“ Meri ! Cukup ! “ teriakku tak kalah keras. Darahku bergolak.
Perempuan yang ternyata istri Beni itu terperangah.
“ Kau boleh perlakukan apa saja aku, tapi tidak pada anakku ! “ tegasku.
  Huh ! Ibu sama anak, sama saja, haram !”
Rasanya ingin sekali aku menyumpal mulutnya dengan gumpalan kain yang sudah kucelupkan ke bensin, lalu aku tinggal menyulut sebatang rokok dan sisa api kusulutkan pada kain di mulutnya itu! Leeeb…Buuulll…!!
Aku   memilih menahan amarah, karena aku tahu, aku  salah, tapi aku tidak kalah!
“ Aku tak tahu di mana dia ! “ kataku pelan.
“ Bohong !” bantahnya dengan suara seperti serigala mengaum.
“ Bila tak percaya, geledah saja rumahku !”
“ Huh !! “  lecehnya. Bibirnya mencibir, sinis. “ Tak sudi aku masuk ke rumah pelacur sepertimu ! haram !”
Aku menghela napas.
“ Cyuuuh !! “ Ia meludah, lalu pergi meninggalkanku.
Kupeluk erat tubuh kecil Dino yang gemetar ketakutan. Kusalurkan energi kegembiraan. Kuberi ia ketenangan. Aku mencoba menyuapi jiwanya dengan cinta, seperti aku tahu, kehadirannya  pun karena cinta ...
***
Malam membentang mengepakkan sayap hitam. Ia laksana kerudung yang menutupi rambut panjang seorang gadis.  Senyum dingin mengecup air mata. Mata tajam mengguratkan luka. Napas memuai beraromakan dendam kesumat !
Kupikir aku sudah lupa seperti apa itu  cinta. Kupikir aku sudah sangat muak, muaaakk sekali dengan lelaki itu, tapi malam ini Beni berhasil meluluhkan hatiku. Dia menemuiku dan memberi semua yang kubutuhkan. Semua ! Semmuanya!! Malam ini menjadi malam paling menggairahkan untuk aku juga dia ! Ah, kali ini ia yang menggebu – gebu. Bagaimanapun aku tak mau kalah bergelora ! Tatapan matanya sangat aku rindukan, sorot mata yang telah lama hilang sejak perempuan muda itu masuk ke dalam hidupnya. Kini aku menikmatinya. Sungguh, ini luar biasa!
Gerbong kereta.
“ Maafkan aku, Lasmi ! Bukan maksudku melupakanmu. Aku hanya ingin mengikuti kata hati ...”  Bibirnya merekah.
Aku diam menatapnya. Ada sanjung puja sekaligus kegetiran merancau jiwa.
“ Kau tahu, aku ayah dari anakmu. Maka percayalah, aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu ...” Kata – katanya laksana madu yang melumuri bibirku.
Kecup manisnya menyengat ubun - ubunku. Menggetarkan jiwa dan meluruhkan seluruh darah yang mengalir dalam tubuhku. Ia dahsyat dan luar biasa ! Aku tahu itu sejak empat tahun yang lalu. Ya, jiwaku menjadi  hangat. Tubuhku menjadi lentur. Pasrah. Tak terarah ...
Ini getaran terhebat dari nada – nada pengusir penat. Cawanku terasa terisi kembali anggur kehidupan yang membawaku pada kepasrahan. Ah,  indah memang bermahkota cinta... berputik asmara beraroma nafsu ...
Sungguh, ini malam penuh gelora jiwa sekaligus tiang pertama aku membuat pintu masuk baginya pada sebuah masa. Masa baru yang belum pernah ia temui sebelumnya. Aku baru saja membimbingnya agar ia dapat mengurai tempat persinggahan jiwa. Aku adalah metafor yang memeluk kenyataan, kenyataan yang menggulirkan kesatuan roh. Sekaligus aku adalah pedang yang menebas rohnya ! Akulah Sang Eksekutor !
***
Derit pintu gerbang stasiun  membangunkanku. Aku menguak, mengumpulkan nyawa. Seberkas cahaya menerpa wajahku. Kupicingkan mata.  Kuulas diri sepagi ini. Oh, aku masih di gerbong usang ini. Rupanya malam tadi aku baru saja terbuai.
Kehidupan kembali berdenyut di stasiun. Pun ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Angin terasa menyayat kulit ari. Awan berarak kelabu. Napas ini agak sengau. Kulihat orang – orang berduyun – duyun melangkah tergesa, bahkan berlari. Mata penat dan wajah lesu berubah mengganas merasakan sesuatu. Mereka berseru, berkata – kata tentang sesuatu. Menyiratkan ketakutan, kepanikan, kekhawatiran, kengerian. Dalam sekejap stasiun padat dengan jiwa – jiwa yang resah.
“ Ada apa, Pak ?” tanya seorang ibu pada lelaki tua tak jauh dariku.
“ Ada yang mati ! tertabrak kereta !”
Semakin lama semakin berkerumun orang – orang. Sementara aku terpekur di sini menahan tubuh yang bergetar. Oh, ada tanda merah di sini bekas cumbuan malam tadi. Kusulut sebatang rokok pereda ketegangan. Aku mengemas diri.  Masih hangat sisa percintaan semalam. Rasanya masih ingin aku menciumi aromanya, kujilati gairahnya, kuresapi anyirnya dan  kukupasi kerak – keraknya untuk kurekatkan di jaketku sebagai hiasan perlambang cinta.
Memunguti sisa – sisa cinta semalam membuatku seperti berdiri di bibir tebing persinggahan jiwa. Melihatnya melambaikan tangan serta memanggil – manggil namaku. Hmm... menggelikan !  Bersiul aku melihatmu ketakutan.
Aku tak peduli !!
Tanpa melihatpun aku tahu siapa yang mati. Beni ! Tentu saja tubuhnya tercecer terlindas kereta, karena tadi malam aku memasukkan obat tidur ke dalam minumannya lalu menyeretnya ke tengah rel kereta. Aku yang menghabisinya !!
Lagu kematian menjadi lagu terindah pagi ini. Aku baru saja menyelesaikan bait terakhir dari laguku. Aku baru saja temui cengkok  indah pada nada – nadanya. Aku puas menuntaskan laguku.
“ Hai... ! “
Tiba – tiba sebuah suara mendesirkan darahku. Rinto ! Lagi – lagi lelaki itu !
“ Aku tahu apa yang kau lakukan semalam “ katanya dengan suara sangat jelas.
Aku tersentak. Jantungku berdebar sangat kencang. “ Apa maksudmu ?! “ selidikku.
“ Maksudku .... “ Ia tersenyum seraya mencolek pipiku, “ ..... kalau kau mau tak ada yang tahu, kau ikuti saja semua keinginanku !” tawarnya. Kulihat wajahnya mangar-mangar pertanda ia sungguh – sungguh.
Mblegedes!!! Brengsek!! Ia mengunciku. Rupanya ia tahu aku yang membunuh sopir bus itu.
Sejak pagi itu ada perjanjian kotor. Aku harus mengikuti semua kemauannya.
Aku menjadi pembiusnya. Gairahnya. Geloranya.. Hasratnya. Seksinya.  Dimanapun, kapanpun ia mau ! Tanpa aku kecup sedikitpun nikmatnya !! Budak !! Ya, aku jadi    budaknya !!!!!
“Shieett!!! Go to hell !!” batinku.
Geliatku sekuat  serigala yang aumannya menembus langit memandang neraka baru. Hadirkan lengkingan merdu di laguku.
Bibirku mengulum rindu. Rindu mencakar – cakar luka.
Laguku belum usai.
Ini janjiku !!
; Satu baris kata lagi masih terselip akan kutulis di lembar kelam nanti.
 Tak lama lagi. Karena akupun sudah mencium amis darahmu !
;  Ke – ma – tian  !
 kedua .....
Tunggu, Sayang ... !!!
***