Sabtu, 02 Desember 2023

 " LELAKI BERKALUNG SELENDANG  PENDULANG RUPIAH "


Gerakan tubuhnya gemulai. Tangannya lincah  bergantian menyibak selendang yang melingkar di leher. Kaki dan lenggak-lenggok kepalanya bergerak seiring dengan irama musik tradisional  yang  keluar dari sound sistem yang teronggok di pojok ruangan.  Alunannya menghipnotis sosok itu. Adalah  alunan musik  terbuat dari bambu yang  berpadu dengan gambang, dhendhem, kenong, kendang  dan gong. Ya, Calung Banyumasan !   

Sosok itu adalah Jupe Alexa, begitu ia dikenal.  Dia bukan perempuan, melainkan seorang laki – laki. Lahir tiga puluh empat tahun yang lalu dengan nama  Yuli Supriyono  di kota Cilacap  provinsi  Jawa Tengah. Anak pertama dari empat bersaudara itu tinggal di sebuah rumah di perkampungan bernama Desa Karangkandri , sekitar lima belas kilometer dari pusat kota.

Saat usianya 28 tahun  ibunya meninggal. Ia tinggal dengan ayahnya dan seorang adik perempuan yang beranjak dewasa.  Satu adiknya telah menikah dan tinggal di luar kota, sedangkan adik lainnya telah meninggal dunia. Jupe, begitu ia dipanggil,  lebih sering di rumah. Tak heran kalau dalam keseharian, ia kerap melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyapu, bahkan memasak. Ia tak peduli apa kata orang tentang dirinya. Terlebih, ia adalah seorang Penari Calung atau biasa disebut Lengger.

Sejak lulus kuliah tahun 2014 dari ISI Surakarta jurusan Seni Tari, ia sering  mendapat panggilan menari di kampung atau acara tertentu tingkat kabupaten. Tetapi itu tak bisa menjadi andalan penghasilan. Secara ekonomi, ia kepayahan. Jupe bingung dengan hidupnya. Ya, meskipun memiliki kesibukan sebagai pengisi tari dalam berbagai acara, meltih menari di sekolah-sekolah atau kegiatan sosial lainnya, namun itu tak menjamin hidupnya  menjadi lebih baik secara eknomi. Ia gamang menatap masa depan.

Ketika tahun 2015 ia rela turun ke jalan mengamen.  Berjalan dari rumah – ke rumah, menyambangi orang – orang di perkampungan, di tempat wisata atau tempat keramaian lain. Ia  menari dan bernyanyi untuk sekedar mendapatkan uang receh. Ia merancang sendiri alat musik yang ia gunakan. Yaitu microphone yang disambungkan pada sound system kecil yang diberi selempang yang berfumgsi seperti tas  agar bisa dibawa kemanapun. Ia hilangkan rasa malu. Yang ada, rasa percaya diri atas keyakinannya pada doa, cita-cita dan harapan.

Kala itu ia berkeinginan memiliki sebuah tempat berlatih calung. Terlebih  di tengah kemajuan zaman yang semakin modern, kesenian calung  termarginalkan. Apalagi melihat anak - anak muda saat ini, mereka lebih menyukai tarian modern. Ditambah dengan hadirnya platform – platform media sosial yang bertebaran di internet yang lebih mengenalkan musik dan tarian modern, ini  membuatnya khawatir  akan  keberlangsungan calung, yang notabene adalah musik rakyat yang cablaka dan pinggiran akan semakin tersingkir. Ia ingin memilik sebuah sanggar.

Ia lalu mencoba membuat sanggar tari bernama Sanggar Priambodo pada tahun 2016. Namun sulit berkembang. Ia tetap saja kebingungan  memperkuat ekonomi. Berkat informasi dari seorang teman, ia kemudian memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR kepada Bank Rakyat Indonesia pada tahun 2021. Ia mendapat pinjaman sebesar Rp.25.000.000,-  Uang itu ia gunakan untuk memperbaiki sanggar dan membuka jasa kecantikan berupa pijat dan spa. Bahkan di tahun 2023 ini berkembang dengan membuka warung mini atau kantin sanggar.

Sanggar Priambodo, di ruangan itu terdapat berbagai hiasan seni.  Di dinding sisi kiri saat masuk ruangan, terdapat pajangan pigura piagam – piagam penghargaan yang ia raih dari prestasi maupun kerjasama dengan berbagai kalangan atau dinas /instansi. Sanggar Priambodo juga beberapa kali mengadakan kegiatan seperti Pemilihan Duta Lingkungan beberapa tahun yang lalu.  Kini, sanggar itu memiliki beberapa anak asuh dan alumni yang siap melenggang di ajang nasional maupun internasional. Ia memiliki sebuah grup calung profesional yang siap mendapat undangan menari kapanpun.

Ia berterimakasih khususnya kepada  Bank Rakyat Indonesia yang telah membantu meningkatkan ekonomi yang berkelanjutan bagi hidupnya. Ia bangga dengan apa yang telah dilakukan. Sanggar Priambodo menghapus kegamangan sekaligus memberinya nafas kehidupan dan harapan yang kian cemerlang.

                                                                     

                                                                      ***

Jupe _Lelaki Berkalung Selendang


    
                                                
                                                 
                           
                              JUpe _Ngamen - Pantai Teluk Penyu - Pulau Nusakambangan                                             

Jupe on Bobok Bumbung 2020

Jupe _Acara _Bobok Bumbung 6

Jupe_melatih menari anak SMK

Jupe_piagam penghargaan

salah satu piagam Jupe

Piagam LKP Priambodo



Ruangan Menari 1

Ruangan Menari lantai 2
dan  peralatan calung


piala penghargaan Jupe

 
Ruangan menari 1
arah ke lantai 2

Jupe dan Alat monitor besar

Jupe _kantor adm

Bangunan dan Banner

Banner salon Jupe

Papan Sanggar

Banner LKP Priambodo

Banner Kegiatan Priambodo

Banner Salon dan Spa

Ruangan depan

Peralatan Hias


Alat kosmetik dan perlengkapan hias

Kostum menari

Kuitansi Bukti Penerimaan Pinjaman BRI



Warung / Kantin Papringan

Dapur Kantin Papringan Priambodo

Sebagian Bahan kantin

Hiasan dinding Kantin 1

Hiasan dinding Kantin 2



uji kelayakan sanggar tari _ Jupe


                                                                         Jupe Menari

                                                   

Foto-foto
dokumen pribadi dan Facebook Jupe :
https://web.facebook.com/yuliono.inyong


Catatan :

Cablaka –Ngapak/ Basa Panginyongan

                --------------------------------------0---------------------------------


Kategori : Non Fiksi

Genre : Feature

Tema : Humanisme

Judul : Lelaki Berkalung Selendang Pendulang Rupiah

Penulis : Yuli Misgiyati

Bentuk : Karya Tulis

@BRIWRITE2023


Tidak ada komentar: